Richard masih ingat jelas malam itu. Malam ketika tawa kebersamaan berubah menjadi jeritan pilu. Ia melihat bagaimana perlakuan kejam menimpa Lucky, sebuah peristiwa yang meninggalkan luka mendalam di hatinya. Sebagai prajurit, ia diajarkan untuk setia pada sumpah, pada komando, dan pada rekan seperjuangan. Namun, malam itu, sumpah setia itu diuji dengan cara yang paling kejam.
Sejak hari itu, hidup Richard tidak lagi sama. Ia membawa ingatan pahit sekaligus tanggung jawab besar: menjadi saksi kunci. Bukan hanya demi menegakkan kebenaran, tetapi juga demi menjaga nama baik sahabatnya yang gugur tanpa keadilan.
Meski di balik seragam dan wajah kerasnya ia tampak gagah, sebenarnya ada pergulatan batin yang tak henti membayanginya. Setiap kali ia menatap langit malam, ia merasa seolah-olah mendengar suara Lucky memintanya untuk tidak menyerah.
“Bersaksilah demi kebenaran. Jangan biarkan darahku sia-sia,” begitulah suara itu terus hidup dalam hati Richard.
Kini, langkahnya tidak hanya sebagai seorang prajurit penjaga bangsa, tetapi juga sebagai pembawa obor kebenaran untuk rekannya yang telah tiada. Ia tahu jalan ini tidak mudah, penuh risiko dan tekanan. Namun, Richard sadar kesaksian adalah satu-satunya jalan agar tragedi ini tidak terkubur dalam diam.
Kisah nyata by Iqnasius Rudolf
